Alasan
Masuk Psikologi
By
Rosyida
Banyak
yang bertanya-tanya kenapa Aku masuk Psikologi, jadi karena Aku capek jelaskan
satu per satu tiap ada yang nanya ini kubuat tulisan aja kalau mau tahu tinggal
baca. Biasanya di awal menjadi mahasiswa baru juga pertanyaan ini akan selalu
muncul dan hampir semua dosen akan bertanya alasan masuk ke jurusan ahli jiwa
satu ini. Di sini Aku mau ceritakan secara detailnya sampai akhirnya memilih
jurusan psikologi. Alumni SMA jurusan
IPA 2018 itu Aku, di tahun ini 2020 atau lebih tepatnya Tahun Ajaran 2020/2021
aku adalah mahasiswa semester 3 psikologi. Kalau dihitung harusnya sudah
semester 5 kalau sejak 2018 menjadi mahasiswa. Iyakan?
Mulai
dari sini, sejak masa sekolah Aku tidak pernah merencakan untuk masuk di Jurusan Psikologi, jangankan membuat rencana kepikiran aja tidak sama sekali. Sejak
SD Aku hanya bayangin seseorang yang lihai menciptakan sesuatu, melakukan
penelitian-penelitian kayanya keren gitu. Ini pikiran zaman SD ya. Cita-cita
memang suka berubah seiring berjalannya waktu pasti kalian juga merasakan
begitu, hal ini juga berlaku padaku. Jadi, ketika duduk di bangku SMP, Aku
masih terobsesi sama yang namanya peneliti itu, cari informasi profesinya apa,
nah nemu kata “ilmuwan” akhirnya mutusin pengen jadi ilmuwan. Menurut kalian
gimana cita-citaku ini? Halu ya? Hahaha sampai sekarang suka penasaran apa yang
membuat diriku berpikir jauh ke sana. Mungkin karena Aku sendiri tipe orang
kepo, tiap memperhatikan sesuatu selalu muncul tanda tanya kenapa bisa begini
dan begitu. Dan teman-teman sekolah dulu suka bilang Aku orang yang suka
melamun, padahal enggak hanya mikir pertanyaan yang tiba-tiba terlintas di
benak.
Singkat
cerita tentang pemikiran Aku yang tinggi itu, lanjut SMA. Di bangku SMA Aku
udah buat goal atau target ke depan setelah lulus, tulis di kertas karton terus
tempel di kamar. Sayangnya gak sempat difoto buat jadi bukti, sekarang kamar
udah beda jadi udah gak ada lagi. Yang Aku tulis di sana nama kampus, jurusan,
target IPK serta target S2. Cita-cita menciptakan sesuatu itu gak pernah pudar
di memoriku, jadi saat itu Aku niat buat masuk di Teknik, nah kebetulan selama
SMA pelajaran Kimia jadi favorit jadi mutusin buat masuk Teknik Kimia di UGM,
Yogya. Belum kepikiran susahnya di teknik gimana, yang penting rencanakan dulu.
Semakin berjalannya waktu tepatnya mau lulusan ketika pendaftaran SNMPTN dibuka,
oke Aku daftar sesuai yang Aku rencanakan. Miris ketika mendapat respon dari
salah satu guruku, Dia bilang gini “Yakin kamu ke UGM? Sekolah kita
akreditasnya masih B. bukan apa, kamu siswa yang diharapkan di sekolah coba
pikirkan lagi ya,” dengar kalimat ini antara mau ketawa sama sedih. Ketawa karena
impianku kaya memang halu banget, sedih karena ada yang gak percaya dengan optimisme
diri ini.
Padahal
buat perjuangin UGM, Aku ikut bimbel mahal gaes di GO (Ganesha Operation) yang
isi siswanya ini rata-rata anak china. Aku gak mau bilang biayanya berapa,
pasti kalian tahu hehe. Dari pagi-malam jam 10 Aku baru pulang ke rumah kecuali
hari jum’at-minggu ini juga kalau gak ada jadwal lain. Perjuangan buat jadi
mahasiswa UGM gak papalah. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan Aku malah daftar
jurusan Matematika di UNSOED (Universitas Jenderal Soedirman), Purwokerto. Nyaliku
ciut kenak komenan begitu langsung ganti. Kok nyasar matematika? Ada alasannya,
pertama setelah cari informasi tentang jurusan matematika murni di google aku
nemu profesi yang lagi-lagi ngarah ke ilmuwan, Programmer. Kedua, selain kimia dari SD memang udah suka sama
pelajaran Matematika. Ketiga, keluarga dari mamaku pada di Jawa dekatlah sama
Purwokerto. Keempat, pokoknya kalau kuliah maunya di Pulau Jawa mau dimanapun
itu gak papa yang penting bisa jalan-jalan, kebetulan tinggal di Sumatera.

Gak
nunggu waktu lama pengumuman tiba, Aku Lulus!. Akhirnya tercapai meski gak UGM,
dekat yogya bisa jalan-jalan kalau libur kok. Setelah ngurus sana sini daftar
ulang dan lain-lain. Aku resmi jadi mahasiswa Matematika UNSOED meski Home Sick
berbulan-bulan, kangen rumah, kangen keluarga wajar baru pertama jauh dari
orang tua. Anehnya, home sick ini gak hilang-hilang udah dua bulan, tiap malam
nangis. Betah? Jelas iya, soalnya makanan di Purwokerto enak. Puncak gelisah
itu akhirnya tiba, Aku sempat mikir buat ikut SBMPTN tahun depan dan keputusan
itu udah yakin karena yang buat home sick malah jurusannya sendiri.
Tuhan mengabulin perasaan tidak nyaman itu untuk tidak kembali lagi menjadi mahasiswa
matematika, kabur? Bukan. Aku kecelakaan, ini cara Tuhan jawab doa-doa itu. Hilang
sudah cita-cita programmer dan bisa
kembali pulih berjalan 3 bulan. Kemudian aku coba ulang jadi mahasiswa lagi di
tahun 2019 bulan Februari, kebetulan ada Kampus Swasta di Medan lagi buka Calon
Mahasiswa, bukan kampus lebih ke yayasan gitu. Yauda ambil karena sempat down
berbulan-bulan. Jurusan Bahasa Arab D2, Basic gak ada sama sekali. Dan benar,
di sini Cuma bertahan satu bulan dan dijemput pulang karena bukan masuk kelas
malah bolos dan Aku keluar jalan-jalan bareng teman sekamarku yang ikutan bolos,
alasan? Masalah internal sama pihak yayasan, kedua gak betah sama jurusan. Akhirnya
daftar lagi ke Yogya di IQQ An-Nur, tinggal ujian sekitar bulan Juni. Aku
sempat daftar cadangan di Pekanbaru di Kampus Swasta jurusan Psikologi, ini
cadangan gaes. Alasan? gak jelas, lupa malah.
Jawaban
doa dan takdir, Aku malah memilih pilihan cadangan yang sama sekali tidak
pernah kulirik itu. Bahkan selama ikut ujian, hanya formalitas saja karena
ujian di Jogja dijadwalkan sesudah di Pekanbaru. Jadi kalau gak lulus di Jogja
ada cadangan di sini. Ternyata, Aku gak jadi berangkat ke Jogja dan lulus
menjadi Mahasiswa Psikologi 2019. Masih gak nyangka jalannya rumit penuh
liku-liku. Ketika ditanya kenapa masuk jurusan Psikologi, Aku sendiri masih
bingung mau jawab apa, tapi Aku sadar selama berdoa, Aku hanya minta pada Tuhan
untuk di tempatkan di suatu tempat dimana aku merasa nyaman dengan semuanya
sehingga apa yang kupelajari mampu memberi manfaat bagi banyak orang. Siapa sangka,
jawaban doa itu membawaku di jurusan yang sekarang Aku jalani malah membawaku lebih menjadi Aku yang sebenarnya bahkan merasa begitu cocok dan nyaman dengan yang sekarang.
Percayalah, Allah hanya akan memberikan yang terbaik di waktu yang benar-benar tepat meski diuji dengan jatuh berkali-kali namun Allah kasih keyakinan dan kekuatan di hati untuk segera bangkit kembali.



No comments:
Post a Comment