Mengamati
tingkah polah anak merupakan sesuatu yang mengasyikkan. Mengapa ada anak yang
sudah mudah tersenyum atau bahkan gampang menangis? Mengapa ada anak yang lebih
tinggi dan lebih besar daripada yang lainnya? Apakah anak yang cerewet di rumah
juga akan menjadi cerewet di sekolah? Jika tidak, mengapa bisa demikian?
Bagaimana kemajuan dalam keterampilan motorik mempengaruhi kemampuan anak dalam
bersosialisasi? Apa yang menyebabkan perbedaan perilaku pada anak? Apakah
perkembangan yang terjadi pada anak sematamata dipengaruhi oleh faktor
keturunan atau lebih banyak ditentukan oleh faktor lingkungan? Banyak lagi
pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita. Untuk bisa menjawabnya, kita
perlu mempelajari perkembangan manusia berdasarkan pola asuh orang tua.
Menurut
Shanker, Blair & Diamond (2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak, salah satunya adalah interpersonal relationships (kedekatan, pola asuh). Interpersonal relationships atau pola
asuh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
anak. Kualitas hubungan orang tua dengan anak sangatlah penting dan berpengaruh
terhadap perkembangan anak seperti kesehatan mental, gaya hidup, konsumsi rokok
dan alkohol, kelahiran, cedera, kesehatan fisik, keterampilan sosial, dan
pencapaian hidup (Simkis, dkk, 2013).
orangtua perlu menstimuli seluruh kemampuan panca indera anak
untuk
membentuk perkembangan bayi secara fisik, kognitif serta sosioemosi.
Caranya sebagai berikut: Menyediakan berbagai benda yang
berbeda bentuk, warna, pola dan bunyi Banyak bicara pada bayi secara tatap muka
Memberikan makanan secara variatif pada bayi sesuai dengan usianya Mengajak
bayi bermain, seperti bermain sembunyi benda, cilukba, dan sebagainya. Memang sudah
sepantasnya orang tua harus bekerja sama dalam mengurus anaknya, menjaga dan
sebagai pemerhati tumbuh kembang si anak dimana orang tua atau pendidik, perlu:
1. Pemberian ASI sebagai pemenuh
nutrisi bayi dalam masa pertumbuhan dan meningkatkan kecerdasannya
2.
Memberi kesempatan dan menunjukkan permainan serta alat permainan tertentu yang
dapat memicu munculnya masa peka/menumbuh kembangkan potensi, dari alat-alat
bermain ini, orang tua/pengasuh memberi permaianan yang menimbulkan anak-anak
ingin tahu terus menerus
3.
Memahami bahwa anak masih berada dalam masa egosentris yang ditandai dengan
seolah-olah dialah yang paling benar, keinginannya harus selalu dituruti dan
sikap mau menang sendiri, dan sikap dari orang tua dalam memasuki masa
egosentris dengan memberi pengertian secara bertahap pada anak agar dapat
menjadi mahluk sosial yang baik, dengan bentuk kasih sayang, cinta kasih,
contoh-contoh cerita, diberi reward bila anak mau menundukkan egonya, karena
kebiasaan yang baik, anak akan memahami nasehat orang tuanya.
4.
Masa meniru pada anak usia dini sangat kuat, tidak hanya meniru pada
orang-orang disekitarnya tetapi juga pada tokoh-tokoh khayal yang sering
ditampilkan ditelevisi, pada saat itu orang tua atau pengasuh harus menjadi
tokoh panutan bagi anak dalam berperilaku, anak bisa meniru perilaku mahluk
lain yang punya kebiasaan baik misal, meniru perilaku anjing dirumah yang
selalu taat pada tuannya, sehingga tuannya selalu memberi makan yang sesuai
seleranya.
5.
Masa berkelompok,biarkan anak bermain diluar bersama temannya atau berinteraksi
bebas, jangan terlalu membatasi anak,agar anak bisa bersosialisasi dan
beradaptasi sesuai dengan perilaku lingkungan sosialnya, ini adalah pendidikan
budi pekerti untuk kasih sayang sesama hidup.
6.
Pentingnya eksplorasi bagi anak, biarkan anak memanfaatkan bendabenda yang ada
disekitarnya dan biarkan dia melakukan trial and error, karena anak adalah
penjelajah yang ulung, orang tua jangan membatasi terlalu kaku, agar pendidikan
budi pekerti untuk menanamkan perilaku sabar dalam mengeksplorasi keinginan
anak.
7.
Disarankan tidak boleh memarahi anak bila dia membangkang, karena bagaimanapun
juga merupakan masa yang dilalui anak, bila terjadi pembangkangan, sebaiknya
diberi waktu pendinginan ( cooling down), misalnya bila anak menangis jangan
memarahi, cukup biarkan sejenak namun tetap beri perhatian untuk segera menyudahi
tangisnya. Keterbatasan pengetahuan dan informasi yang dimiliki orang tua
menyebabkan potensi yang dimiliki anak tidak berkembang optimal.
Referensi
Asri,S
, Suniasih, N , Suparya, K. 2017. Hubungan Pola Asuh terhadap Anak Usia Dini. Media Edukasi. 1:2.
Hildayani,
R. 2009. Perkembangan Manusia. Modul
Psikologi Perkembangan Anak.
Sahabat
Keluarga. 2019. Cara Orang Tua Mengasuh Anak pada laman https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900399 diakses tanggal
27 April 2020